17 January 2009

Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik dengan Lesson Study

Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik dengan Lesson Study

Oleh: Akhmad Huda, S.Pd *)

Memperhatikan soal pendidikan di negeri ini sepertinya hanya mengulang tulisan-tulisan banyak kalangan masyarakat diberbagai media masa. Dimana rata-rata masyarakat memandang pendidikan negeri ini syarat dengan berbagai masalah yang pelik dan ruwet, kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang professional, sarana dan prasarana yang sangat terbatas bahkan dalam laporan PBB untuk bidang pendidikan, UNESCO menunjukkan peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari 58 menjadi 62 diantara 130 negara di dunia. Education Development Index (EDI) Indonesia adalah 0,935, di bawah Malaysia dan Brunei Darussalam. dari kenyataan tersebut jelas terlihat bahwa mutu pendidikan di Indonesia rendah.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Pada tahun 2005 pemerintah dan DPR RI telah mensahkan Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang tersebut menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru agar menjadi professional. Di satu pihak, pekerjaan sebagai guru akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi, tetapi dipihak lain pengakuan tersebut mengharuskan guru memenuhi sejumlah persyaratan agar mencapai standar minimal seorang professional.

Pemerintah selalu melakukan usaha peningkatan mutu guru melalui pelatihan dan tidak sedikit dana yang dialokasikan untuk pelatihan guru. Sayangnya usaha dari pemerintah ini kurang memberikan dampak yang siginifikan terhadap peningkatan mutu guru. Minimal ada dua hal yang menyebabkan pelatihan guru belum berdampak pada peningkatan mutu pendidkan. Pertama, pelatihan tidak berbasis pada permasalahan nyata di dalam kelas. Kedua, hasil pelatihan hanya menjadi pengetahuan saja, tidak diterapkan pada pembelajaran di kelas atau kalaupun diterapkan hanya sekali, dua kali dan selanjutnya kembali “seperti dulu lagi”. Hal ini disebabkan tidak adanya monitoring pasca pelatihan, apalagi kalau kepala sekolah tidak pernah menanyakan hasil pelatihan.

Lesson Study mampu menjawab permasalahan tersebut. Lesson Study adalah model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Lesson Study merupakan suatu penelitian tentang proses pembelajaran di kelas nyata yang dilakukan sekelompok guru dalam rangka meningkatkan keprofesionalan guru. Adapun inti dari kegiatan Lesson Study adalah open class untuk diamati oleh guru yang lain atau stakeholder pendidikan lainnya. Hal ini dilakukan bukan untuk memamerkan pembelajaran yang sempurna akan tetapi lebih dimaksudkan untuk mencermati dan kemudian menganalisis kegiatan belajar siswa, yang pada akhirnya dapat memberikan pengalaman berharga bagi semua pihak khususnya tenaga pendidik. Adapun tahapan kegiatan Lesson Study meliputi kegiatan perencanaan (plan), implementasi atau pelaksanaan (do), dan refleksi pembelajaran (see).

Lesson Study sudah berkembang di Jepang sejak awal tahun 1900 an. Melalui kegiatan tersebut guru-guru di Jepang mengkaji pembelajaran melalui perencanaan dan observasi bersama yang bertujuan untuk memotivasi siswa-siswinya aktif belajar mandiri. Alasan mengapa Lesson Study menjadi popular di Jepang karena Lesson Study sangat membantu guru-guru. Walaupun Lesson Study menyita waktu tetapi guru-guru memperoleh manfaat yang sangat besar berupa informasi berharga untuk meningkatkan keterampilan mereka.

Lesson Study berkembang di Indonesia melalui IMSTEP (Indonesia Mathemtics and Sciene Teacher Education Project), ada tiga kabupaten yang menjadi pilot project Lesson Study, kabupaten Sumedang Jawa Barat , kabupaten Bantul Jawa Tengah, dan kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Adapun salah satu Madrasah Tsanawiyah swasta di kabupaten Pasuruan yang telah melaksanakan kegiatan Lesson Study adalah MTs Sunan Giri Prigen Pasuruan. Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan Lesson Study di MTs Sunan Giri Prigen yaitu (1) meningkatkan kualitas guru dalam pembelajaran, (2) membangun sikap guru dan siswa yang kreatif dan inovatif, (3) meletakkan dasar-dasar pembelajaran yang kuat, dan (4) meningkatkan kerjasama antar guru.

Sebagaimana telah dikemukkan sebelumnya bahwa Lesson Study pada dasarnya meliputi tiga bagian kegiatan yakni perencanaan (plan), implementasi (do), dan refleksi (see). Untuk mempersiapkan Lesson Study hal pertama yang sangat penting adalah melakukan persiapan. Langkah awal dalam Lesson Study adalah melakukan identifikasi masalah kegiatan belajar mengajar, pengembangan rencana pembelajaran yang berpusat pada aktivitas belajar siswa dengan mengacu pada ketentuan kurikulum yang berlaku dan meperhatikan tingkat kesiapan belajar siswa, pemilihan teaching materials, penerapan strategi pembelajaran tertentu, uji coba model pembelajaran tertentu, dan penentuan siapa guru yang akan tampil pada kesempatan pelaksanaan pembelajaran.

Langkah kedua dalam Lesson Study adalah implementasi atau pelaksanaan pembelajaran untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam perencanaan. Sebelum pembelajaran dimulai dilakukan breafing kepada para pengamat atau observer untuk menginformasikan kegiatan pembelajaran yang direncanakan oleh seorang guru dan mengingatkan bahwa selama pembelajaran berlangsung pengamat atau observer tidak mengganggu kegiatan pembelajaran tetapi mengamati aktibitas siswa selama pembelajaran. Fokus pengamatan ditujukan pada interaksi siswa-siswa, siswa-guru, siswa-bahan ajar. Lembar observasi perlu dimiliki oleh para pengamat atau observer sebelum pembelajaran dimulai. Para pengamat dipersilahkan mengambil tempat di ruang kelas yang memungkinkan dapat mengamati aktivitas siswa. Selama pembelajaran berlangsung para pengamat tidak boleh berbicara dengan sesama pengamat dan tidak mengganggu aktivitas dan kosentrasi siswa. Keberadaan para pengamat di dalam ruang kelas disamping mengumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk belajar dan pembelajaran yang sedang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru.

Langkah ketiga adalah refleksi, guru sebagai model menyampaikan kesan-kesannya terhadap pelaksanaan pembelajaran. Setelah itu, seluruh pengamat atau observer yang menghadiri kegiatan pembelajaran diberi kesempatan luas memberi opini dan saran. Apa yang dikemukakan dalam refleksi adalah kejadian yang sesungguhnya, bukan hasil rekaan atau harapan guru pengamat. Oleh karena itu fakta yang dikemukaan hendaknya disertai keterangan kapan itu berlangsung, Fakta itu disampaikan secara objektif, namun hendaknya dikaji mengapa hal itu terjadi. Jadi fakta disampaikan kemudian dianalisis mengapa siswa melakukan atau tidak melakukan proses pembelajaran. Refleksi pengamat atau observer hendaknya bijak, tidak mengkritik destruktif terhadap penampilan guru model, dan berupaya mengkomunikasikan temuan-temuan yang didapatnya dengan mengacu pada pedoman observasi yang telah dibuatnya. Pada akhir refleksi guru pengamat mengemukakan alas an apa yang bias dipetik dari hasil pengamatan tersebut. Apakah hal itu dapat dijadikan acuan untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya? Pada akhirnya, nilai utama yang dikandung dari kegiatan refleksi pembelajaran adalah terbangunnya komunikas belajar produktif yang mengedepankan kolgalitas (mutual learning)

Dari kegiatan Lesson Study yang dilaksanakan di MTs Sunan Giri Prigen ternyata dapat mendatangkan banyak manfaat yaitu: (1) guru menjadi percaya diri, (2) meningkatnya pengetahuan guru tentang materi ajar dan pembelajarannya, (2) meningkatnya pengetahuan guru tentang cara mengobservasi aktivitas belajar siswa, (3) menguatkan hubungan kolegalitas baik antar guru maupun dengan observer selain guru, (4) menguatnya hubungan antara pelaksanaan pembelajaran sehari-hari dengan tujuan pembelajaran jangka panjang, (5) meningkatnya motivasi guru untuk senantiasa berkembang, (6) meningkatnya kualitas rencana pembelajaran, dan strategi pembelajaran, dan (7) guru memiliki keinginan untuk selalu maju. Sedangkan bagi siswa, manfaat itu adalah: (1) siswa lebih aktif dan kreatif, (2) siswa berani berpendapat, dan (3) terdapat peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar.

Lesson Study sebagai model pelatihan keprofesionalan guru memiliki berbagai tahapan kegiatan, yang masing-masing tahap dapat memberikan makna yang berharga bagi setiap orang yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Makna yang bias diambil dapat berupa hal-hal yang positif maupun hal-hal yang bersifat kurang baik yang memerlukan penyempurnaan. Semua kegiatan dapat memberikan makna dan akan sangat bermanfaat dalam pengembangan keprofesionalan guru di masa yang akan dating.

*) Penulis adalah guru Bahasa Indonesia DPK Depag Kab. Pasuruan di MTs Sunan, masih menempuh S2 Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Islam Malang.

Mengembangkan Kreativitas Siswa dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Mengembangkan Kreativitas Siswa dengan Model Pembelajaran

Berbasis Masalah

Oleh: Akhmad Huda, S.Pd. *)

Absrak: Hasil-hasil pengajaran dan pembelajaran berbagai bidang studi terbukti selalu kurang memuaskan berbagai pihak (yang berkepentingan – stakeholder). Hal tersebut setidak-tidaknya disebabkan oleh tiga hal. Pertama, perkembangan kebutuhan dan aktivitas berbagai bidang kehidupan selalu meninggalkan proses/hasil kerja lembaga pendidikan atau melaju lebih dahulu daripada proses pengajaran dan pembelajaran sehingga hasil-hasil pengajaran dan pembelajaran tidak cocok/pas dengan kenyataan kehidupan yang diarungi oleh siswa. Kedua, pandangan-pandangan dan temuan-temuan kajian (yang baru) dari berbagai bidang tentang pembelajaran dan pengajaran membuat paradigma, falsafah, dan metodologi pembelajaran yang ada sekarang tidak memadai atau tidak cocok lagi. Ketiga, berbagai permasalahan dan kenyataan negatif tentang hasil pengajaran dan pembelajaran menuntut diupayakannya pembaharuan paradigma, falsafah, dan metodologi pengajaran dan pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan mutu dan hasil pembelajaran dapat makin baik dan meningkat.

Kata kunci: kreativitas, model pembelajaran, pembelajaran berbasis masalah

Pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Guna mewujudkan tujuan di atas diperlukan usaha yang keras dari masyarakat maupun pemerintah. Masyarakat Indonesia dengan laju pembangunannya masih menghadapi masalah berat, terutama berkaitan dengan kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan.

Departemen Pendidikan Nasional sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan dan telah melakukan pembaharuan system pendidikan. Usaha tersebut antara lain adalah penyempurnaan kurikulum, perbaikan sarana dan prasarana, serta peningkatan kualitas tenaga pengajar. Kurikulum yang berlaku sampai tahun ini adalah kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007

Adanya tiga macam kurikulum yang berlaku paling tidak pada awal pemberlakuan KTSP sangat membingungkan. Situasi ini diperparah dengan munculnya kesimpangsiuran informasi tentang KBK dan KTSP yang beredar dimasyarakat. Guru sebagai orang yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan kurikulum merupakan pihak yang paling dibingungkan dengan situasi ini. Namun, kunci sukses pengajaran bukan terletak pada kecanggihan kurikulum atau kelengkapan fasilitas sekolah, melainkan bagaimana kredibilitas seorang guru di dalam mengatur dan memanfaatkan mediator yang ada di dalam kelas.

Dalam pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Guru sebagai tenaga professional harus memiliki sejumlah kemampuan mengaplikasikan berbagai teori belajar dalam bidang pengajaran, kemampuan memilih dan menerapkan metode pengajaran yang efektif dan efisien, kemampuan melibatkan siswa berpartisipasi aktif, kreatif, dan kemampuan membuat suasana belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) merupakan salah satu model pembelajaran yang dipandang cocok untuk mengembangkan agar siswa berpartisipasi aktif dan kreatif. Pilihan itu sesuai dengan pendapat, sebagaimana dikemukakan Gardner (1993), bahwa proses berpikir kreatif berkaitan dengan penemuan dan pemecahan masalah.

Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang diturunkan dari paham filsafat kontuktivisme. Sesuai dengan karakteristik filsafatnya itu, belajar pada dasarnya adalah kegiatan memperoleh pengalaman dengan mengkostruk pengalaman yang diperoleh dari proses belajar. Hasil belajar yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan keahlian, serta kecapakan, bukanlah pemberian dari pembelajar (guru/dosen), melainkan hasil dari aktivitas mengkonstruksi pengalaman belajar sendiri. Dalam proses itu ada internalisasi pengalaman pada diri siswa yang berciri individual. Akibatnya, pengalaman belajar dan hasil belajar dibenarkan bervariasi.

Paradigma pembelajaran kontuktivisme telah disuarakan dengan lantang oleh Degeng (2000, 2002) sebagai hal yang wajib untuk merevolisu pembelajaran di Indonesia apabila kita ingin menghasilkan semberdaya manusia lulusan pendidikan yang ideal. Paradigma behavioristic yang dipegang oleh guru selama ini yang ditampilkannya dalam proses pembelajaran berupa transfer pengetahuan dari guru ke siswa telah menunjukkan kegagalannya dalam upaya menghasilkan lulusan pendidikan yang bertaraf ideal. Cara pandang behaviorostic ini harus secara radikal diganti dengan cara pandang kontruktivisme.

Paradigma behavioristik harus diganti dengan paradigma kontruktivisme, yang memandang pengetahuan sebagai hasil upaya konstruksi yang dilakukan siswa. Ciri khas paradigma pembelajaran konstruktivisme ialah keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses upaya belajar sesuai dengan kemampuan, pengetahuan awal, dan gaya belajar masing-masing dengan bantuan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa apabila siswa mengalami kesulitas dalam upaya belajarnya.

Ada tiga butir pandangan filosofis paham kontruktivisme yang terkait dengan pembelajaran, termasuk dalam PBM (Savery & Duffy, 1996). Pertama, pemahaman terjadi dalam interaksi dengan lingkungan. Kedua, konflik atau persoalan yang dihadapi dan dihadapkan pada siswa adalah stimulus untuk belajar dan menetukan organisasi dan hgakikat hal-hal yang dipelajari. Ketiga, pengetahuan berkembang melalui sosial dan melalui evaluasi terhadap viabilitas pemahaman individual.

Prinsip-prinsip dalam Pembelajaran Berbasis Masalah

Seperti model pembelajaran yang lain, PBM terikat pada prinsip-prinsip yang berlaku. Prinsip-prinsip itu pula yang perlu diketahui guru ketika melaksanakan pembelajaran dengan PBM.

Menurut Savery & Duffy (1996) pembelajaran dalam PBM direalisasikan dengan sejumlah kegiatan dengan uraian berikut Pertama, menempatkan semua aktivitas belajar pada tugas atau masalah. Prinsip ini berarti bahwa belajar harus ditempatkan pada kegiatan penyelesaian tugas atau penyelesaian masalah. Kedua, mendukung siswa dalam mengembangkan diri untuk memecahkan masalah atau menyelesaikan tugas. Dalam mengembangkan kemampuan memecahkan masalah ada dua cara yang dapat ditempuh. Pertama, siswa meminta masalah dari guru dan menggunakannya sebagai stimulus untuk beraktivitas belajar, artinya masalah yang dipecahkan berasal dari siswa. Kedua, guru menetapkan masalah dan memberikannya kepada siswa sebagai stimulus aktivitas belajar.

Ketiga, merancang tugas autentik yang dimaksudkan agar pengajar berada dalam lingkungan belajar yang autentik sehingga siswa itu mendapatkan pengalaman belajar yang diperlukan sebagai pengalaman belajar yang autentik pula. Keempat, merancang tugas dan lingkungan belajar untuk merefleksi kompleksitas lingkungan yang difungsikan siswa. Kelima, memberi siswa hak (ownership) untuk memecahkan masalah atau solusi. Dalam pembelajaran PBM siswa diberi hak sepenuhnya untuk memecahkan masalah atau mengembangkan solusi. Keenam, merancang lingkungan belajar untuk mendukung pengembangan pikiran siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru bertindak sebagai bagian integlar fasilitator dan bagian integral lingkungan belajar siswa. Guru merupakan salah satu sumber belajar. Ketujuh, memberi kesempatan untuk menguji gagasan dalam pandangan dan konteks alternatif. Kegiatan ono diarahkan untuk memberikan sikap terbuka pada siswa tentang bkualitas dan kedalam pengalaman hasil belajar, dan kedelapan, memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi, baik konten maupun proses. Untuk memaknai pengalaman belajar dan hasil belajar, siswa perlu melakukan kegiatan refleksi. Refleksi diarahkan pada dua hal, yakni strategi belajar dan hasil belajar. Refleksi merupakan bagian integral proses belajar (Suparno, 2004: 4-9).

Proses Pembelajaran dalam PBM

Secara garis besar, sebagaimana dikemukakan oelh Barrows & Myers (dalam Savery & Duffy, 1996: 142), PBM dilaksankan dalam lima tahapab berikut: (1) tahapan pengondisian kelas (starting a new class), (2) tahap penyampaian masalah baru (starting a new problem), (3) tahap tindak lanjut masalah (problem fallow-up), (4) tahap presentasi hasil (performance prsentation), dan (5) tahap pasca penyimpulan masalah( after conclusion of problem).

Setiap tahapan tersebut berisi sejumlah kegiatan. Tahap pertama berisi ekgiatan introduksi dan penciptaan iklim belajar. Tahap kedua berisi kegiatan menyusun masalah, memberikan masalah kepada siswa, mendeskripsikan produk, menyampaikan tugas pemecahan masalah, memberikan penalaran berdasarkan masalah, merumuskan komitmen sebagai hasil yang mungkin ada, menajamkan pemahaman isu dan tugas, mengidentifikasi sumber belajar, dan menetapkan tindak lanjut. Tahap ketiga berisi kegiatan penetapan sumber belajar dan kegiatan menguji masalah. Tahap keempat berisi kegiatan presntasi hasil pemecahan masalah. Tahap kelima berisi kegiatan mengabstraksi dan meringkas pengetahuan dan kegiatan melakukan evaluasi diri.

Kegiatan mengabstraksi dan meringkas pengetahuan berupa kegiatan mengembangkan definisi, diagram, daftar, konsep, abstraksi, dan prinsip. Kegiatan evaluasi diri dilakukan dalam kelompok dengan kegiatan-kegiatan berikut: (1) melakukan penalaran berdasarkan masalah, (2) menguak informasi dengan menggunakan sumber belajar yang baik, (3) membantu kelompok berdasarkan tugasnya, dan (4) memperoleh dan menghaluskan pengetahuan hasil belajar. (Suparno, 2004:11-12)

Simpulan

PBM memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang autentik sebagai produk interaksi antara siswa dan sumber belajar. Pengalaman yang demikian itu sangat bermakna bagi siswa yang pada saatnya akan bermakna pula dalam kehidupan pasca belajar di sekolah. Untuk memaksimalkan perolehan pengalaman belajar itu, prinsip-prinsip pembelajaran yang relevan dan proses pembelajaran yang menunjang harus diterapkan.

Daftar Rujukan

Savery, Jhon & Thomas M. Duffy. 1996. Problem Bases Learning; An Intructional Model and Its Constructivist Framework. Dalam Wilson, Bret G. Constructivist Learning Environment; New Jersey Educational Technology Publications Inc.

Suparno. 2004. Pembelajaran Berbasis Masalah. Salah Satu Model Pembelajaran yang Cocok untuk Mengembangkan Kreativitas Pebelajar. Pidato Ilmiah (disampaikan dalam rangka Wisuda Sarjana dan Diploma tahun 2004 STKIP PGRI Pasuruan.

……….. 2007. Pengajran Bahasa Indonesia yang Efektif. (Online), (http://www. duniaguru.com, diakses 08 September 2007)

*) Penulis adalah guru Bahasa Indonesia DPK Depag kabupaten Pasuruan di MTs Sunan, masih menempuh S2 Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Islam Malang.

PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN DENGAN PENDEKATAN PENGALAMAN BERBAHASA DI KELAS AWAL SEKOLAH DASAR

PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN DENGAN PENDEKATAN PENGALAMAN BERBAHASA DI KELAS AWAL SEKOLAH DASAR

Akhmad Huda*)

Abstrak: Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebisaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Salah satu tugas guru baca yang luar biasa sukarnya ialah menemukan bahan bacaan yang menarik bagi anak-anak yang duduk di kelas-kelas permulaan. Anak-anak yang berasal dari lingkungan yang belum mengenal bahasa Indonesia dengan baik pun merupakan pembawa masalah yang tidak mudah. Mereka memerlukan bahan pelajaran yang secara serempak bisa mengembangkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Kata Kunci: Membaca, Membaca Permulaan, Pengalaman berbahasa

Empat keterampilan berbahasa yang disajikan dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keteampilan membaca, dan keterampilan menulis. Sebenarnya keterampilan tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu keterampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi keterampilan menyimak dan membaca, serta keterampilan yang bersifat mengungkapkan (produktif) yang meliputi keterampilan menulis dan membaca. (Muchlisoh, 1994: 119).

Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari peranan membaca tidak dapat dipungkiri lagi. Ada beberapa peranan yang dapat disumbangkan oleh kegiatan membaca antara lain: kegiatan membaca dapat membantu memecahkan masalah, dapat memperkuat suatu keyakinan atau kepercayaan pembaca, sebagai suatu pelatihan, memberi pengalaman estetis, meningkatkan prestasi, memperluas pengetahuan dan sebaganya.

Kebisaaan dan kegemaran membaca perlu ditumbuhkan sejak dini. Dalam rangka menumbuhkan kebisaaan dan kegemaran membaca pada suatu masyarakat perlu dimulai secara bertahap. Salah satu langkah awal dalam menumbuhkan kebisaaan dan kegemaran membaca dalam masyarakat adalah melalui penanaman kebisaaan membaca pada jenjang sekolah.

Penanaman kebisaaan membaca tersebut, perlu diupayakan sejak anak berada pada jenjang sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Penanaman kebisaaan membaca pada siswa SD/MI, perlu dimulai dari hal yang paling dasar terlebih dahulu yaitu mengupayakan kelancaran membaca pada siswa. Siswa perlu diajak untuk ‘melek huruf’ atau ‘melek wacana’ terlebih dahulu. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI, kegiatan yang berkaitan dengan masalah tersebut terwadahi dalam pembelajaran membaca permulaan, khususnya terdapat pada jenjang kelas 1 atau kelas 2 SD/MI. Dalam kondisi normal, pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan tersebut akan berjalan lancar, artinya siswa dengan mudah memahami apa yang mereka pelajari dalam kegiatan membaca. Namun, tidak jarang ditemui berbagai permasalahan dalam pembelajaran membaca permulaan. Sebagian siswa telah lancar dan tidak mengalami hambatan dalam belajar membaca tetapi sebagian lainnya belum bahkan tidak dapat atau tidak mampu membaca (Winiasih, 2007)

Keterampilan membaca dan menulis, khususnya keterampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, buku-buku bahan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Akibatnya, kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca.

Menurut pandangan “whole language” membaca tidak diajarkan sebagai suatu pokok bahasan yang berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran bahasa bersama dengan keterampilan berbahasa yang lain. Kenyataan tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses pembelajaran bahasa, keterampilan berbahasa tertentu dapat dikaitkan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Pengaitan keterampilan berbahasa yang dimaksud tidak selalu melibatkan keempat keterampilan berbahsa sekaligus, melainkan dapat hanya mengakut dua keterampilan saja sepanjang aktivitas berbahasa yang dilakukan bermakna.

Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelas-kelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas awal disebut pelajaran membaca dan menulis permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat, sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan Pelajaran. (Sri Nuryati, 2007:1-2)

Menurut Badudu (1993: 131) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD–SMU ialah guru terlalu banyak menyuapi, tetapi kurang menyuruh siswa aktif membaca, menyimak, menulis dan berbicara. Proses belajar-mengajar di kelas tidak relevan dengan yang diharapkan, akibatnya kemampuan membaca siswa rendah. Salah satu kesulitan yang dihadapi guru ialah menemukan bahan pelajaran yang cocok bagi para anak didiknya. Kadang-kadang bahan bacaan itu tidak cocok karena kosakatanya, kadang-kadang pula karena struktur kalimat-kalimatnya atau isinya. Salah satu tugas guru baca yang luar biasa sukarnya ialah menemukan bahan bacaan yang menarik bagi anak-anak yang duduk di kelas-kelas permulaan. Anak-anak yang berasal dari lingkungan yang belum mengenal bahasa Indonesia dengan baik pun merupakan pembawa masalah yang tidak mudah. Mereka memerlukan bahan pelajaran yang secara serempak bisa mengembangkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Muchlisoh, 1994:199)

Hakikat Membaca

Pada hakikatnya membaca merupakan proses memahami dan merekonstruksi makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan merupakan interaksi timbal balik, interaksi aktif, dan interaksi dinamis antara pengetahuan dasar yang dimiliki pembaca dengan kalimat-kalimat, fakta, dan informasi yang tertuang dalam teks bacaan. Informasi yang terdapat dalam bacaan merupakan informasi yang kasat mata atau dapat disebut dengan sumber informasi visual. Pengetahuan dasar yang sebelumnya telah dimiliki pembaca merupakan informasi yang tersimpan dalam memori otak/pikiran pembaca atau dapat disebut dengan sumber informasi nonvisual. Kedua macam sumber informasi tersebut perlu dimiliki secara berimbang oleh pembaca. Artinya kemampuan mengenal informasi visual perlu diikuti dengan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk memahami suatu teks bacaan. Demikian pula sebaliknya, pengetahuan dasar yang telah dimiliki perlu dilanjutkan dengan kemampuan memahami informasi visual yang ada pada teks bacaan. Kemampuan penunjang lain yang perlu dimiliki pembaca yaitu kemampuan menghubungkan gagasan yang dimiliki dengan materi bacaan. Dalam kaitannya dengan pemahaman dan perekonstruksian pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan (Winiasih, 2007: 3)

Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan seseorang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya (Zuchdi dan Budiasih, 1996/1997:49). Pendapat tersebut menekankan tentang pentingnya membaca bagi peningkatan kualitas diri seseorang. Seseorang akan ‘gagap teknologi’ dan ‘gagap informasi’ apabila jarang atau tidak pernah melakukan kegiatan membaca. Informasi tentang ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan berbagai informasi actual lainnya senantiasa berkembang pesat dari hari ke hari. Segala macam informasi dan perkembangan zaman tersebut selain dapat diikuti dari media elektronik (misalnya TV), juga dapat diikuti melalui media cetak dengan cara membaca. Kedua macam media informasi tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Media elektronik dapat diakses dengan cara yang lebih santai karena tinggal menonton suatu tayangan di TV. Kelemahannya, tayangan tersebut tidak dapat ditonton ulang apabila kita membutuhkan informasi tersebut. Media cetak yang diakses dengan cara membaca mempunyai kekurangan dari segi pembaca, yakni ketersediaan waktu yang kurang mencukupi dalam membaca, kurangnya kemampuan memahami teks bacaan, rendahnya motivasi dalam membaca, kurangnya kebisaaan membaca, dsb. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan media elektronik (misalnya TV), kegiatan membaca mempunyai kelebihan yakni teks bacaan tersebut dapat dibaca ulang apabila informasi dalam teks bacaan tersebut sewaktu-waktu diperlukan.

Dari hakikat membaca yang telah diuraikan tersebut dapat dikemukakan bahwa kegiatan membaca mempunyai berbagai macam tujuan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang akan melakukan kegiatan membaca tentu mempunyai maksud mengapa dia perlu membaca teks tersebut yang selanjutnya dapat mengambil manfaat setelah kegiatan membaca berlangsung. Manfaat kegiatan membaca antara lain (1) sebagai media rekreatif; (2) media aktualisasi diri; (3) media informatif; (4) media penambah wawasan; (5) media untuk mempertajam penalaran; (6) media belajar suatu keterampilan, (7) media pembentuk kecerdasan emosi dan spiritual; dsb.

Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Dalam kegiatan membaca, pembaca memroses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca, 1991: 172). Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang. Dengan demikian, anak sejak kelas awal SD perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan.

Dilain pihak, Gibbon (1993: 70-71) mendefinisikan membaca sebagai proses memperoleh makna dari cetakan. Kegiatan membaca bukan sekedar aktivitas yang bersifat pasif dan reseptfi saja, melainkan mengehdaki pembaca untuk aktif berpikir. Untuk memperoleh makna dari teks, pembaca harus menyertakan latar belakang “bidang” pengetahuannya, topik, dan pemahaman terhadap sistem bahasa itu sendiri. Tanpa hal-hal tersebut selembar teks tidak berarti apa-apa bagi pembaca.

Membaca Permulaan

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebisaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.

Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki keterampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh keterampilan / kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. Membaca permulaan merupakan suatu proses keterampilan dan kognitif. Proses keterampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat (Sri Nuryati, 1997: 5).

Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31). Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan.

Pembelajaran membaca permulaan di SD mempunyai nilai yang strategis bagi pengembangan kepribadian dan kemampuan siswa. Pengembangan kepribadian dapat ditanamkan melalui materi teks bacaan (wacana, kalimat, kata, suku kata, huruf/bunyi bahasa) yang berisi pesan moral, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai emosional-spiritual, dan berbagai pesan lainnya sebagai dasar pembentuk kepribadian yang baik pada siswa. Demikian pula dengan pengembangan kemampuan juga dapat diajarkan secara terpadu melalui materi teks bacaan yang berisi berbagai pengetahuan dan pengalaman baru yang pada akhirnya dapat berimplikasi pada pengembangan kemampuan siswa. Akhadiah (1992) dalam Zuchdi dan Budiasih (1996/1997:49) menyatakan bahwa melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik.

Pendekatan Pengalaman Berbahasa

Salah satu kesulitan yang dihadapi guru bahasa Indonesia dalam pengajaran membaca adalah menemukan bahan pelajaran yang cocok bagi para anak didiknya.. Untuk mengatasi hal tersebut para guru mencoba suatu pendekatan berdasarkan latar belakang pengalaman anak dalam menggunakan bahasanya. Pendekatan ini disebut Pendekatan Pengalaman Berbahasa (PPB). Dalam PBB, guru menggunakan bahan pelajaran yang dibuat oleh siswa itu secara tertulis. Dengan demikian anak akan berkesimpulan bahwa segala sesuatu yang dilisankannya itu dapat diubah menjadi tulisan. Kesadaran seperti itu penting sekali. Dengan kesadaran tersebut anak-anak pun akan berkesimpulan bahwa tulisan itu bisa bercerita, bahwa dengan tulisan orang biasaberkomunikasi, bahwa dengan tulisan itu mempunyai persamaan dengan tutur.

PPB dalam bidang membaca dapat dibatasi sebagai pengajaran membaca dengan menggunakan wacana yang dikembangkan bersama-sama dengan anak-anak. Dalam PBB guru merangsang anak-anak untuk berpikir tentang pengalaman masing-masing. Guru memberikan dorongan kepada anak-anak untuk bercerita. Waktu anak bercerita, guru mendengarkan cerita itu dan merekamnya secermat-cermatnya. Rekaman guru yang menggunakan huruf-huruf yang jelas itu harus dilakukan di depan anak-anak supaya anak-anak sadar bahwa bahasa lisan itu bisa diubah menjadi bahasa tulisan. Wacana yang berbentuk deretan kata, frase, kalimat, atau cerita itulah yang dijadikan bahan pelajaran.

Langkah-Langkah Pendekatan Pengalaman Berbahasa

Belajar konstrultivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pebelajar, melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan, 2002:5).

Dalam PPB guru mengembangkan wacana bersama-sama dengan murid-muridnya mulai dengan memberikan rangsangan pada pikiran murid-muridnya itu. Langkah yang pertama, ialah pengembangan wacana bersama salah satu murid, guru menyuruhnya memikirkan hal-hal yang merupakan kesukaannya. Guru memotivasi dengan jalan berkata bahwa dia ingin tahu kesenangannya. Dalam hal yang kedua, guru mulai dengan jalan bercerita bahwa hari Minggu merupakan hari libur untuk beristirahat. Dia melukiskan hal-hal yang suka dikerjakannya pada hari Minggu, kemudian dia merangsang muridnya untuk bepikir tentang apa yang suka mereka kerjakan pada hari Minggu.

Langkah yang kedua, guru berupaya untuk mendengarkan sebaik-baiknya dan mengarahkan percakapan yang langsung antara murid-muridnya. Sepintas lalu, upaya yang harus dilakukan guru itu mudah; namun, dalam suatu kelompok yang terdiri atas banyak murid, pekerjaan mengarahkan pembicaraan mereka supaya setiap anak mendapat giliran untuk mengemukakan pendapatnya itu, bukanlah hal yang sederhana. Guru menyuruh murid-murid yang berkelompok itu mendengarkan baik-baik temannya yang sedang berbicara. Masalah yang dihadapi dalam hal ini sudah tentu berbeda dengan yang dihadapi pada waktu menggunakan PPB dengan seorang anak.

Langkah yang ketiga ialah menuliskan hal-hal yang ceritakan oleh murid. Bisaanya guru memberikan petunjuk kepada muridnya supaya yang dikemukakannya itu berupa sebuah cerita. Guru memberi contoh cara memulai sebuah cerita, atau yang lebih baik ialah meminta saran murid tentang cara yang mereka sukai. Semua saran haris diperhatikan dan murid disuruh memilih cara yang terbaik. Kalimat-kalimat yang mendukung kalimat yang pertama yang merupakan awal cerita itu, akan diajukan oleh murid. Guru mencatat kalimat-kalimat yang mereka buat itu tepat sebagaimana yang diucapkan murid.

Langkah yang keempat, guru mendengarkan bacaan muridnya. Guru menyuruh muridnya. Guru menyuruh meuridnya membaca wacana yang merupakan hasil rekamannya itu. Jika dia bekerja dengan seorang siswa, maka dia harus memperhatikan kata-kata yang dikenal muridnya dan kata-kata mana yang tidak dikenalnya. Jika guru bekerja dengan sekelompok murid, dia bisa menyuruh murid-muridnya membaca secara bergiliran. Guru mencatat kata-kata yang diucapkan oleh murid-muridnya itu tidak ada dalam wacana

Langkah yang kelima merupakan penggunaan wacana dalam pengajaran membaca. Guru harus memanfaatkan pengetahuan yang diperolehnya dari bacaan murid-muridnya itu. Kalau guru tahu bahwa siswanya tidak dapat membaca kata tertentu yang ada dalam wacana yang digunakannya itu, dia harus mengajarkannya dengan cara memisahkan kata tertentu itu dari wacana (Muchlisoh, 1994: 202).

Keunggulan PPB

Salah satu manfaat PPB yang sangat penting adalah sifat PPB yang mulai dengan soal perkembangan bahasa anak. Tugas untuk memilih bahan yang cocok menjadi ringan karena wacana yang digunakan sudah dengan sendirinya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa anak. Selain itu kelebihan yang lain ialah sifatnya yang mengintegrasikan semua kegiatan kebahasaan. Anak-anak mendengarkan, berbicara, membaca, dan kadang-kadang menuliskan wacana yang tengah dikembangkan.

Kelebihan lain dari PPB adalah sifatnya yang bisa meningkatkan minat baca siswa, karena PPB berpusat pada anak. Orang pada umumnya senang membaca pengalaman pribadinya. Anak-anak pun sama, terutama terhadap wacana yang memerikan komentar yang positif tentang dirinya. Tugas untuk memotivasi anak memmbaca wacana tidak diperlukan pada PPB.

Kelebihan yang terakhir yang dimiliki PPB ialah kehematannya. PPB tidak memerlukan biaya banyak. PPB cukup dengan kertas, papan tulis, pensil, dan kapur yang ada. Pendekatan lain kerap kali tidak bisa berjalan karena tuntutan pembiayaan yang terlalu tinggi.

Kelemahan PPB

Disamping memiliki kelebihan, PPB mempunyai beberapa kelemahan, yang pertama ialah sifat PPB yang hanya digunakan pada pelajaran membaca tingkat awal. Setelah anak menguasai kosakata dasar, dia akan memerlukan bahan bacaan yang berisi pengalaman dan kosakata baru. Kalau guru hanya menggunakan PPB, anak-anak akan terbatas ruang geraknya di sekitar pola bahasa dan pengalamannya saja. Salah satu tujuan utama membaca ialah untuk memperkaya kosakata dan berbagai tipe pola bahasa haruslah digunakan dalam upaya meluaskan pengembangan bahasa.

PPB juga menuntut waktu yang jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan lain karena sesungguhnya guru selalu berupaya mengembangkan bahan yang diperlukan oleh PPB tidak melihat hal-hal di atas itu sebagai keterbatasan , tetapi sebagai kesempatan yang bekerja lebih banyak lagi dengan anak secara perorangan.

PPB menuntut guru agar selalu menyadari adanya sejumlah keterampilan membaca dan sejumlah kata-kata sehngga mereka tahu apa yang harus diajarkan dan kapan mengajarkannya. Pedoman guru yang menyertai pendekatan lainnya memberikan kemudahan bagi guru. Di dalamnya dijelaskan kata-kata yang mana yang harus diperkenalkan kepada murid dan keterampilan apa yang harus diajarkan. PPB tidak menyajikan hal-hal yang memudahkan seperti itu.

Penutup

Setiap kegiatan pembelajaran diharapkan dapat mencapai target hasil belajar tertentu. Salah satu target hasil belajar yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran membaca permulaan adalah siswa memiliki kelancaran dalam membaca. Pembelajaran membaca permulaan dilaksanakan dengan berbagai metode. Setiap metode pembelajaran membaca permulaan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Metode yang satu akan melengkapi metode yang lain. Guru dapat memilih salah satu atau menggabungkan berbagai metode sesuai dengan kondisi siswa dan tersedianya sarana pendukung lainnya. Selain itu, guru juga boleh menciptakan model baru dalam pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan.

Pendekatan pengalaman berbahasa merupakan salah satu metode yang dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan kelancaran dalam membaca di kelas permulaan, karena dalam pendekatan pengalaman berbahasa wacana dikembangkan oleh guru bersama-sama dengan muridnya secara tatap muka. Dalam kegiatan pengembangan wacana itu dapat dikembangkan semua keterampilan berbahasa; menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan berbaurnya semua keterampilan dalam suatu kegiatan itu guru dituntut untuk lebih kratif.

Daftar Rujukan

Badudu. J. S. 1993. Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah:Tinjauan dari Masa ke Masa, Bambang Kaswanti Purwo (ed), Pelba 6. Yogyakarta: Kanasius.

Muchlisoh. 1992. Materi Pokok Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud.

Semiawan, Conny, dkk. 1986. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia

Sri Nuryati. 2007. Pembelajaran Membaca Permulaan Melalui Permainan Bahasa Di Kelas Awal Sekolah Dasar. Jurnal Sekolah Dasar, (Online), (http://www. Google.com, diakses 7 Desember 2007)

Winiasih, 2005. Diagnosis Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Sd/Mi Melalui analisis Reading Readiness. Jurnal Sekolah Dasar, (Online), Tahun 14, Nomor 1, Mei 2005 1, (http://www. Google.com, diakses 19 Desember 2007)

Zuchdi, D dan Budiasih. 1996/1997. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta:Proyek Pengembangan PGSD Dirjen Dikti Depdikbud.

*) Penulis adalah guru Bahasa Indonesia DPK Depag di MTs Sunan Giri Prigen Kabupaten Pasuruan masih menempuh S2 Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Islam Malang